Lestarikan Tradisi Warga Kutisari Gelar Tedak Siten
- Feb 15, 2026
- KIM KUTISARI
Surabaya, Kutisari.kim.id – Seiring perkembangan zaman, tradisi tedak siten perlahan mulai terlupakan. Sejatinya banyak makna yang tersirat dari pelaksanaan upacara adat turun tanah, Minggu pagi 15.2.2026
Tedak siten menandakan seorang anak manusia siap menapakkan kaki untuk mengarungi kehidupan.
Secara harfiah, ‘Tedak’ berarti turun dan ‘Siten’ diambil dari kata “siti” yang bermakna tanah/lemah. Tedak Siten adalah tradisi yang menyimbolkan kesiapan anak untuk mulai belajar berdiri, berjalan dan tumbuh menjadi dewasa sebagai anak yang mandiri.
Pasangan suami istri Firman DwiJaya dan Nur Khunailla mencoba menghidupkan kembali tradisi warisan leluhur tersebut. Acara ini mereka adakan khusus bagi sang buah hati, Inara yang menginjak usia 7 bulan.
Upacara ritual ini dihadiri oleh sejumlah warga dan kerabat di kediamannya dan mereka tampak antusias mengikuti memperebutkan udik-udik’an yang disebarkan/di kepyurkan.
Rangkaian acara Tedak siten yang dimeriahkan dengan rebana oleh Ibu Muslimat PKK RW 02 Kutisari merupakan bentuk akulturasi budaya jawa dan nilai-nilai religius Islam. Prosesi adat turun tanah ini menjadi lebih syahdu dan meriah dengan iringan sholawat maupun lagu-lagu qasidah.
Berikut adalah beberapa poin terkait fenomena tersebut:
Proses tedak siten/mudun lemah dipandu sang ayah, Inara kemudian menapaki jenang tujuh warna yang melambangkan perjalanan hidup. Mulai dari jenang hitam atau coklat, hingga jenang ungu, biru, hijau, merah, kuning, dan terakhir putih.
Prosesi dilanjutkan dengan menapaki naik turun tangga yang terbuat dari tebu.
Peran ibu muslimat sering kali terlibat dalam acara selamatan atau syukuran, termasuk tedak siten, dengan menampilkan kesenian rebana/qasidah sebagai bagian dari hiburan islami.
Konteks Kemeriahan sarananya penggunaan rebana dalam acara adat seperti ini memberikan suasana yang ceria dan kekeluargaan, sesuai dengan semangat sosial di lingkungan masyarakat.
“Kami mengadakan tedak siten karena sudah sangat langka. Selain melestarikan tradisi, upacara ini juga menjadi ajang silaturahmi keluarga besarnya,” ungkap Firman.
Prosesi lainnya adalah menginjak tanah, mencuci kaki dengan air kembang setaman, dan memasuki kurungan ayam untuk memilih beragam objek, mulai dari Al-Quran, pensil, hingga mainan. Rangkaian acara diakhiri dengan doa dan ramah tamah.
Kim Kutisari